Saturday, December 11, 2010

Ilmuwan Inggris Temukan Jel untuk Cegah Penularan AIDS


Perang terhadap Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), terus mengalami kemajuan. Sejumlah ilmuwan yang dipimpin Profesor Robin Offord dan Olivier Hartley dari Universitas Jenewa, Swiss, baru-baru ini, berhasil mengembangkan sejenis molekul yang diyakini dapat melindungi manusia dari virus HIV/AIDS. 
Sebuah protein yang disempurnakan dari protein sistem kekebalan tubuh manusia itu terbukti dapat melindungi monyet betina dari virus HIV. Rencananya, formula itu dikembangkan dalam bentuk jel yang dapat digunakan manusia untuk mencegah penularan HIV secara seksual. Dalam uji laboratorium, senyawa itu mampu melindungi sel dari serangan virus HIV selama satu hari penuh. 
Artinya, secara teori, orang yang menggunakan jel kimia itu terlindungi dari serangan HIV/AIDS setidaknya 24 jam sebelum berhubungan seks. Maksimal pada tahun depan, efek samping jel tersebut terhadap manusia sudah dapat diketahui. Kemudian, obat pencegah itu diuji tingkat kemanjurannya dalam menghalangi infeksi HIV/AIDS pada kelompok yang berisiko tinggi. 
Selanjutnya, Offord dan rekan-rekannya akan mengembangkan cara yang lebih murah dan mudah untuk membuat molekul tersebut. Seperti diketahui, HIV dapat memproduksi sel sendiri dalam aliran darah manusia, yaitu pada sel-sel darah putih (leukosit). Sel-sel darah putih yang biasanya melawan bila diserang virus, tidak akan melawan HIV. 
Hal ini bisa terjadi karena HIV merupakan sejenis retrovirus atau virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Belakangan, virus tersebut menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih, termasuk limfosit, yang disebut "T-4" atau T-penolong (helper) yang juga dikenal dengan sel CD-4. Untuk dapat menginfeksi CD-4, HIV membutuhkan reseptor--satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dalam tubuh--yang disebut CCR5. 
Menurut penelitian Offord dan timnya, orang yang mempunyai banyak sel CD-4 dengan sedikit CCR5 hampir dipastikan aman dari infeksi HIV. Sel itu berperan sebagai kurir sistem kekebalan kimia yang disebut regulated on activation normal T expressed and secreted (RANTES). Nah, RANTES inilah yang sedang dikembangkan oleh tim pimpinan Offord untuk mencegah infeksi HIV.

Diet Malah Bikin Orang Makan Lebih Banyak



Rasa lapar bisa bikin orang stres dan pelariannya membuat orang 'haus' akan makanan berkalori tinggi. Itulah yang banyak terjadi pada orang yang sedang melakukan diet, menahan rasa lapar membuatnya makan lebih banyak.

Cobaan yang dialami orang diet adalah menahan rasa lapar karena harus mengurangi porsi makan yang sebelumnya. Rasa lapar inilah yang membuat orang stres kemudian tubuh menyampaikan ke otak yang membuat otak 'memerintahkan' makan yang lebih banyak.  

Studi baru yang dilakukan peneliti di University of Pennsylvania menunjukkan bahwa penurunan dan kenaikan berat badan dapat menyebabkan perubahan di otak, yang bisa membuat orang lebih tertekan dan mudah stres.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan tikus sebagai subjek. Tikus yang sebelumnya telah melakukan program diet dan mengalami penurunan berat badan ternyata lebih cenderung makan makanan berkalori tinggi dibandingkan tikus yang sebelumnya tidak melakukan diet.

"Rasa lapar bisa membuat orang lebih sering stres. Pada tikus dan juga termasuk manusia, jalur saraf yang berkembang dan aktif pada saat stres, akan membuat Anda 'haus' makanan berkalori tinggi jika sedang kekurangan makanan," jelas Tracy Bale, PhD., dari University of Pennsylvania, seperti dilansir Menshealth, Minggu (10/12/2010).

Bale juga mengatakan bahwa, pesta makan yang terjadi saat seseorang sedang diet diperburuk dengan banyaknya makanan kalori tinggi yang dikemas sangat menarik, misalnya pada makanan junk food.

"Ketika tikus diet makanan tinggi lemak, maka ada bagian otaknya yang aktif. Efeknya mirip ketika orang menggunakan narkoba," jelas Sarah Teegarden, PhD., ahli syaraf yang juga bekerja pada studi ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menawarkan beberapa solusi untuk mencegah pesta makan saat sedang diet, yaitu mengatasi stres sesegera mungkin.

"Jika Anda dapat menemukan cara yang sehat dan juga berguna untuk mengatasi stres, maka itu dapat menghindari Anda dari pesta makan saat diet," saran Teegarden.

Maka itu lakukan diet dengan benar sehingga badan tidak stres yang malah memicu otak untuk memerintahkan makan lebih banyak. Hindari stres agar program diet menjadi lancar.